Kisah Kambing Ajaib Yang Viral Dimana-mana

Posted on

kambing ajaibIni kisah tentang kambing aqiqah, eh salah, kambing ajaib. Mentang-mentang jual jasa aqiqah pake salah sebut kambing.he..he… Kisah ini menarik untuk kita baca dan diambil hikmahnya.

Kisah tentang seorang wanita sholehah yang bernama Alfidhah. Dia hidup bersama suaminya disebuah dusun kecil. Keadaan ekonominya sangat miskin. Akan tetapi kemiskinannya itu tidak membuat dia dan suaminya kufur nikmat, justru dia dan suaminya menjadi hamba Allah yang bersyukur.

Pada suatu hari, dia menjelaskan pada suaminya bahwa bahan makanan sudah habis. Tidak ada lagi makanan yang tersisa untuk dimakan, dan satu-satunya harta miliknya hanya seekor kambing betina.

Mendengar penjelasan istrinya, sang suami lantas berkata, “Bagaimana kalau kambing itu kita sembelih saja, Istriku?”..

“Duh Suamiku, harta kita satu-satunya hanya tinggal kambing itu. Dan kambing itu masih bisa kita perah susunya dan kita minum. Selain itu, aku berharap dia akan beranak, sehingga kita bisa punya banyak kambing nantinya.”

Suaminya merenungi perkataan Alfidhah, dan memang benar bahwa kambing betina itulah satu-satunya harapan bagi keluarganya. Namun, tak lama kemudian, datang seorang tamu. Dia adalah salah satu sahabat suaminya.

“Bagaimana cara kita menjamu tamu, wahai istriku?”, tanya suami Alfidhah.

“Suamiku, alangkah baiknya kalau kita potong saja kambing betina itu!”, jawab Alfidhah setelah berfikir beberapa saat.

“Istriku. Bu­kankah tadi kamu melarangku untuk menyem­belihnya karena tinggal itulah harapan kita satu-satunya?”

“Wahai Suamiku, bukankah Rasulullah telah bersabda bahwa kita wajib memuliakan tamu? Po­tong sja kambing itu suamiku…, semoga Allah menerima pengorbanan kita!”.

Suami Alfidhah agak bimbang sesaat. Tapi akhirnya dia pun mantap untuk menjamu tamu mereka dengan kambing miliknya itu.

Suami Alfidhah segera pergi ke belakang rumah untuk mengambil kambing itu lalu disembelihnya. Ketika suaminya sibuk menguliti kambing, Alfidhah pun tidak mau ketinggalan, dia juga sibuk mempersiapkan diri di dapur untuk memasak.

Tetapi, ada keanehan yang terjadi. Ketika Alfidhah hendak mengambil kayu bakar yang berada di dekat kandang, dia me­lihat seekor kambing yang sama persis dengan miliknya.

“Ohhi, apakah kambing yang disembelih suamiku terlepas?” kata Alfidhah dalam hati. Dia pun lari ke belakang dengan tergopoh-gopoh. Sesampainya di belakang rumah, ternyata dia melihat suaminya masih sibuk menguliti kambing itu. Lalu, kambing siapakah tadi yang di kandang? bisik hatinya penuh tanda tanya.

Setelah berfikir beberapa saat, Alfidhah teringat dengan sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam. Tentang keutamaan me­muliakan tamu dan balasan dari Allah bagi orang-orang yang memuliakan tamu. Rupanya, kambing milik Alfidhah telah diganti oleh Allah dengan kambing yang lebih baik.

Setelah makanan siap, Alfidhah pun menyajikan makanan itu kepada tamunya. Dan, alhamdulillah tamunya makan dengan lahap.

Waktu pun berlalu. Sejak peristiwa itu, Alfidhah jadi sangat menyayangi kambing itu. Dia seperti kambing pada umumnya, makananya rumput, dan jika diperah juga mengeluarkan susu. Tetapi, pada suatu hari keajaiban kembali terjadi, dan Alfidhah sangat terkejut. Sebab, ketika dia mau memerah susu kambing itu, ternyata yang keluar bukan susu melainkan madu. Warnanya bening kekuning-kuningan. Lalu, dia bergegas memberitahu suaminya.

“Suamiku… suamikau…, lihat ini!” kata Alfidhah sambil berlari dan nafas terengah-engah.

“Ketika aku memerah susu kambing ini, yang keluar bukan susu, tapi madu!”

“Subhanallah…!”, suaminya secara reflek mengucapkan lafadz tasbih. Sejak saat itu, kabar tentang kambing yang bisa me­ngeluarkan madu  menjadi viral dimana-mana. Tapi waktu itu hanya viral di dunia offline saja bro… belum ada media sosial.he…he..

Masyarakat berbondong-bondong ke rumah Alfidhah. Diantara orang banyak itu ternyata ada seorang syaikh negeri itu, namanya Abu ar-Rabi’ al-Maliki. Dia pun menanyakan perihal kambing ajaib itu. Dan Alfidhah dengan senang hati menceritakan semua yang telah terjadi perihal kambing ajaib itu.

‘Apakah kambing yang engkau maksud adalah kambing yang susunya baru saja aku minum tadi!”, tanya Syaikh Abu ar-Rabi’ al-Maliki.

“Benar, Syaikh!”, jawab Alfidhah dengan mantap.

Syaikh Abu ar-Rabi’ al-Maliki pun mengangguk-angguk. Begitulah salah satu cara Allah Subhanahu wa Ta’ala memuliakan keluarga yang memuliakan tamu.

Ditulis ulang oleh Ilham Fatahillah dari buku yang berjudul : Taubatnya Seorang Pelacur, Penerbit DIVA Press.