aqiqah kota bekasi

Pilih Sunah atau Tradisi?

Posted on

Memiliki anak adalah anugerah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan kita harus mensyukuri anugerah ini dengan semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Salah satu upaya pendekatan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah dengan menjalankan syariat-Nya. Dan terkait dengan kelahiran anak, Islam memiliki syariat berupa aqiqah. Yaitu menyembelih hewan dan dimasak kemudian dibagikan ke saudara, ke teman, tetangga, dan orang-orang sekitar kita. Acara ini dilaksanakan di hari ketujuh setelah kelahiran, atau keempat belas, atau hari-hari kelipatan tujuh setelah kelahiran.

Namun ada keringanan bagi yang sudah terlalu lama lewat hari-harinya sehingga tidak ingat hari keberapakah usia anaknya, untuk tetap menjalankan aqiqah tanpa harus dilaksanakan di hari kelipatan tujuh. Kapanpun bisa dilaksanakan aqiqah jika memang tidak ingat harinya.

Aqiqah memiliki banyak sekali keutamaan, diantaranya tersebut dalam hadits berikut :

Diriwayatkan oleh Samurah bin Jundab ra. berkata, “Setiap anak yang dilahirkan itu tergadai dengan aqiqahnya, yaitu seekor kambing yang disembelih untuknya pada hari ketujuh, lalu si anak diberi nama dan rambut kepalanya dicukur.” (HR Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah)

Aqiqah adalah salah satu syariat Islam, namun di dalam masyarakat muslim terutama di daerah Jawa, masih banyak yang belum memahami pentingnya syariat aqiqah ini. Kebanyakan masih memilih untuk melaksanakan acara telonan, ngapati dan mitoni atau tingkepan. Ngapati itu tradisi selametan yang dilaksanakan pada bulan keempat kehamilan, sementara mitoni, itu slametan yang dilaksanakan di bulan ketujuh dalam masa kehamilan.

Seandainya mereka memahami pentingnya syariat aqiqah, mestinya akan lebih baik meninggalkan acara tradisi ngapati dan mitoni untuk bisa melaksanakan aqiqah. Lebih baik uang yang seharusnya untuk bikin acara ngapati dan mitoni digunakan untuk beli kambing aqiqah. lebih nyunah dan lebih berkah insyaAllah.

Lagi pula, tradisi ngapati dan mitoni itu bukan dari ajaran Islam, melainkan dari ajaran agama Hindu, yaitu dalam Kitab Hindu Upadesa halaman 6 disebutkan bahwa telonan, mitoni, dan tingkeban dilakukan untuk memohon keselamatan anak yang ada di dalam rahim (kandungan). Acara ini sering juga dikenal dengan Garba Wedana (garba berarti perut, wedana berarti sedang mengandung).

Karena kita muslim, alangkah lebih afdhol jika kita mengutamakan syariat Islam dari pada menjalankan tradisi yang ternyata bukan tradisi Islam. Lebih baik kita move on total dari ajaran tradisi menuju Islam secara kaffah.